Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan global Visa menyampaikan empat tren utama dalam pembayaran digital sepanjang tahun ini.
Vira Widiyasari, Country Manager Visa Indonesia, menyampaikan Visa melihat beberapa tren yang membentuk pembayaran digital, baik global maupun domestik.
"Seperti pertumbuhan penetrasi mobile internet yang mendorong pertumbuhan digital ekonomi, mencapai GMW US$360 miliar pada 2030 hingga meningkatnya pelaku bisnis lokal yang semakin bersaing di pasar global," ujarnya di Jakarta, Selasa (25/2/2025).
Terkait dengan empat tren pembayaran digital, Vira menyebutkan, pertama prospek peningkatan penetrasi mobile dan pertumbuhan e-commerce sebesar 2,5 kali lipat. Berdasarkan Economy SEA 2024 Report Google, Temasek & Bain, proyeksi pengguna internet melalui penetrasi mobile 2025 mencapai 70% dari total populasi Indonesia.
Pertumbuhan tersebut, lanjut Vira, bakal mendorong tren pembayaran berbasis transaksi online, di mana sektor e-commerce menjadi salah satu faktor tertinggi yang diharapkan memengaruhi pertumbuhan hingga 130% pada 2030 dan sektor non-travel mencapai pertumbuhan 35% dengan total GMV US$360 miliar.
"Melihat semakin tingginya minat masyarakat Indonesia berbelanja online, Visa menyadari pentingnya memberikan kenyamanan bagi konsumen dengan melengkapi fitur-fitur seperti Click to Pay dan Visa Subscription Management," jelas Vira.
Baca Juga
Tren kedua, yaitu pergerakan wisatawan Asia Tenggara. Vira memaparkan para wisatawan dari Asia Tenggara lebih memilih untuk bepergian ke negara terdekat, termasuk Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia memiliki peluang besar untuk meningkatkan jumlah turis asing dari Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina.
Visa pun mendukung melalui sejumlah inisiatif, seperti penguatan solusi cross-border melalui kerja sama dengan pemerintah dan berbagai sektor pariwisata di Indonesia.
Tak hanya itu, Visa juga menjalin kerja sama dengan bank yang mendukung contactless acceptance untuk kemudahan transaksi, serta mempromosikan pariwisata Indonesia melalui berbagai kanal marketing Visa di negara-negara yang memiliki minat tinggi untuk berkunjung ke Indonesia.
Tren ketiga yaitu kebutuhan pembayaran B2B dan lintas batas (cross-border) yang terintegrasi. Menurut Vira, tren adopsi commercial payments oleh pelaku industri B2B didorong oleh kebutuhan tinggi akan otomatisasi proses pembayaran internal, hingga tantangan pengelolaan keuangan internal perusahaan.
"Selain itu, tren cross-border dalam bisnis disebabkan oleh semakin banyaknya kebutuhan transaksi lintas batas untuk keperluan ekspor, impor, bahkan minat perorangan akan pengiriman dan penerimaan dana dari dan ke luar negeri," jelasnya.
Terkait dengan tren ketiga ini, Visa menyediakan solusi Visa Commercial Solutions dan Visa Direct, yang membantu transaksi perusahaan serta memfasilitasi transfer dana lintas negara.
Lalu, keempat penguatan perlindungan terhadap modus kejahatan penipuan. Vira menyampaikan berdasarkan temuan Visa, transaksi online memiliki risiko penipuan hingga 7,5 kali lipat dibandingkan dengan transaksi offline.
Visa pun menyediakan solusi Visa Consumer Authentication Service yang menggunakan analisis pola kebiasaan dan perilaku konsumen dengan dukungan teknologi Gen AI dalam risk scoring serta solusi autentikasi biometrik untuk mengurangi ketergantungan pada kata sandi dan PIN.
“Kami yakin bahwa keseluruhan solusi yang kami miliki dapat bermanfaat terhadap pencapaian target pertumbuhan ekonomi digital Indonesia yang diproyeksikan mencapai US$146 miliar pada 2025,” kata Vira.