Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Terpukul Daya Beli sejak Pandemi, Nasabah Pilih Cicil Premi Asuransi

Sejak pandemi, nasabah asuransi lebih memilih mencicil premi karena daya beli menurun. Premi reguler meningkat, sementara premi tunggal menurun.
Annisa Nurul Amara,Wibi Pangestu Pratama
Jumat, 29 Agustus 2025 | 08:50
Uang lembar rupiah pecahan Rp100.000 dan Rp50.000. / Bloomberg-Brent Lewin
Uang lembar rupiah pecahan Rp100.000 dan Rp50.000. / Bloomberg-Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA — Porsi pembayaran premi asuransi secara reguler atau dicicil semakin dominan di kalangan pemegang polis asuransi jiwa. Kenaikan yang terjadi sejak pandemi Covid-19 ini dinilai berkaitan erat dengan tekanan daya beli, sehingga masyarakat tidak memilih premi tunggal atau pembayaran sekaligus.

Perolehan premi asuransi jiwa pada semester I setiap tahunnya tercatat terus turun. Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, perolehan premi pada semester I/2021 mencapai Rp105,05 triliun, sedangkan pada semester I/2025 menjadi Rp87,6 triliun.

Porsi nasabah yang membayar premi tunggal atau sekaligus rupanya kian menyusut, sejalan dengan penurunan premi. Pada semester I/2021 misalnya, 53% nasabah membayar preminya secara langsung di awal, tetapi pada semester I/2025 hanya 36,8% nasabah yang membayar premi tunggal.

"Sementara 36,8% sisanya itu berasal dari premi yang sifatnya tunggal atau sekali bayar. Jadi terlihat bahwa premi berkalanya terus naik," ujar Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon dalam konferensi pers di Jakarta, dikutip pada Jumat (29/8/2025).

Perolehan premi tunggal pada semester I/2025 senilai Rp32,28 triliun tercatat turun cukup dalam, yakni 9,6% (year on year/YoY) dibandingkan semester I/2024 senilai Rp35,69 triliun.

Secara total, pemegang polis mengeluarkan uang lebih sedikit apabila membayar premi tunggal. Sebaliknya, total premi menjadi lebih mahal apabila dibayar secara reguler, tetapi pemegang polis tidak harus mengeluarkan uang bernominal tinggi saat awal membayar asuransi.

Budi enggan menjawab pertanyaan apakah penurunan premi tunggal itu berkaitan dengan daya beli masyarakat yang melemah atau tidak. Yang jelas, baginya masih ada peluang yang cukup besar untuk melayani pemegang polis baik yang memilih tipe pembayaran tunggal ataupun reguler.

"Ini mencerminkan komitmen masyarakat pemegang polis kami dalam mempertahankan kepemilikan polis mereka secara berkelanjutan," tutur Budi.

Pendapatan dari premi reguler semester I/2025 senilai Rp55,32 triliun tercatat tumbuh 4,8% (YoY). Laju pertumbuhan ini sama seperti semester I/2024, dengan perolehan Rp52,81 triliun atau naik 4,8% (YoY).

"Sehingga logikanya adalah ada semakin banyak masyarakat Indonesia yang terproteksi memiliki polis, dan terlihat dengan jumlah tertanggungnya," ujar Budi.

Direktur Pemasaran PT Great Eastern Life Indonesia Roy Hendrata Gozalie menjelaskan bahwa dalam proses penawaran produk, agen asuransi akan menjelaskan perhitungan premi kepada calon pemegang polis, termasuk pilihan untuk membayarnya secara tunggal atau reguler.

Menurutnya, agen akan menjelaskan berapa besaran premi tunggal dan reguler, di sana calon pemegang polis bisa mengetahui besaran premi yang ingin dia bayar dan memilih yang sesuai dengan preferensinya.

"Di situ customer langsung melihat selisihnya dan langsung menghitung begitu. Jadi, customer melihat lebih ke ... balik lagi ke tadi, disposible income yang mereka willing untuk saat ini [keluarkan untuk premi asuransi]," ujar Roy, belum lama ini.

Menurutnya, nasabah yang memiliki preferensi untuk memegang uang tunai terlebih dahulu, untuk berbagai keperluan, cenderung akan memilih premi reguler karena bisa membayarnya secara berkala dengan nominal kecil sehingga memiliki ruang untuk berbagai pengeluaran lain.

"Jangan-jangan nanti saya butuh lebih [uang] gitu, dan [perlu uang] lebih cepat. Jadi, saya lihat seperti itu ya relevansinya [masyarakat banyak memilih premi reguler]," ujarnya.

Indikasi Daya Beli Masyarakat Lemah

Kalangan pengusaha secara umum menilai bahwa daya beli masyarakat masih lemah, dan kondisinya masih berisiko berlanjut pada kuartal III/2025.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani menjelaskan salah satu indikator pelemahan daya beli adalah penjualan kendaraan yang turun lebih dari 8% pada Januari—Juni 2025. Lalu, indeks keyakinan konsumen (IKK) juga masih turun.

Menurut Shinta, hal itu mencerminkan adanya tekanan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah. Maka tidak heran jika penurunan daya beli itu turut berpengaruh pada penjualan asuransi dan pilihan pembayaran premi oleh nasabah.

"Indeks Keyakinan Konsumen yang sempat di level 121 pada Maret juga turun menjadi sekitar 118 pada Juli. Hal ini memberi sinyal bahwa konsumsi masyarakat, terutama kelas menengah, masih menghadapi tekanan," kata Shinta kepada Bisnis, Kamis (28/8/2025).

Dengan kondisi ini, Shinta menilai meskipun konsumsi tetap menjadi motor utama, ruang pertumbuhannya tidak terlalu besar tanpa adanya tambahan stimulus atau insentif daya beli.

Adapun, pertumbuhan ekonomi di periode ini perlu lebih banyak ditopang oleh belanja pemerintah menjelang akhir tahun fiskal serta adanya pelonggaran moneter Bank Indonesia yang memberi tambahan likuiditas.

Namun, Shinta menilai efek stimulus ini baru akan terasa optimal jika eksekusinya cepat dan tepat sasaran. Di sisi investasi, sebagian pertumbuhan pada kuartal kedua berasal dari aktivitas one-off seperti pembelian mesin dan alat produksi.

"Sehingga perlu kita lihat apa yang akan menjadi driver pada kuartal III," imbuhnya.

Secara keseluruhan, Apindo menilai pertumbuhan kuartal III/2025 masih berpotensi positif. Namun, kondisi ini berisiko kepada pertumbuhan yang akan lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya jika konsumsi rumah tangga tidak mendapat dorongan tambahan.

"Karena itu, dunia usaha berharap pemerintah dapat mempercepat belanja prioritas, memastikan likuiditas mengalir ke sektor riil, dan menjaga ekspektasi positif masyarakat serta pelaku industri," ujarnya.
(Afiffah Rahmah Nurdifa)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro