Bisnis.com, JAKARTA – Peran Anjungan Tunai Mandiri (ATM) dinilai masih tetap diperlukan, meskipun berada di tengah gaya hidup atau sistem pembayaran yang tidak menggunakan uang tunai marak dilakukan.
Direktur Utama PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin) Ario Tejo Bayu Aji mengatakan bahwa peran uang fisik terutama sebagai cash point atau titik akses utama untuk kebutuhan tarik tunai masih dibutuhkan.
Hal ini sejalan dengan data yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI), yang mencatat bahwa Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 9,3% (yoy) menjadi Rp1.204,5 triliun pada akhir Desember 2024 dan diperkirakan tumbuh 5,7% (yoy), pada tahun 2025.
“Fakta ini menunjukkan bahwa meskipun tren digitalisasi terus meningkat, kebutuhan terhadap uang tunai tetap dibutuhkan di masyarakat, menjadikan ATM sebagai salah satu infrastruktur penting dalam ekosistem sistem pembayaran nasional,” ujarnya melalui rilisnya, Sabtu (15/2/2025).
Lebih lanjut, dia menekankan bahwa selaku bagian dari Holding BUMN Danareksa, instansinya memiliki sejumlah strategi lain untuk menggeliatkan peran ATM untuk makin diakses oleh masyarakat.
Dia menekankan bahwa nasabah dapat menikmati cek saldo dan tarik tunai secara gratis, tanpa dikenakan biaya tambahan. Sementara itu, untuk transaksi transfer antar rekening Himbara di ATM Link, biaya yang dikenakan hanya Rp4.000.
Baca Juga
Selain itu, kata Ario, dalam beberapa tahun mendatang, ATM Link akan semakin didukung oleh implementasi Cash Recycle Machine (CRM)—sebuah inovasi yang memungkinkan nasabah tidak hanya menarik tunai, tetapi juga melakukan setor tunai dalam satu mesin.
Penggunaan CRM akan meningkatkan efisiensi pengelolaan uang tunai, mengurangi kebutuhan pengisian ulang mesin secara berkala, serta memaksimalkan peredaran uang tunai yang ada di masyarakat.
Transformasi ke arah CRM akan makin memperkuat peran cash point dalam menyediakan layanan keuangan yang lebih efisien dan modern, memungkinkan proses tarik tunai dan setor tunai berlangsung lebih optimal dalam satu mesin yang terintegrasi.
“Optimalisasi ini mencakup standarisasi layanan, efisiensi operasional, serta peningkatan aksesibilitas bagi masyarakat, guna mendukung pertumbuhan ekonomi serta inklusi keuangan di Indonesia,” pungkas Ario.